Melalui Kajian, Balitbang dan Untan Suguhkan Pariwisata Berbasis Geowisata di Sekadau

By Administrator // Rabu, 09 November 2022 // 12:39 WIB // Penelitian

Pontianak, - Kekayaan destinasi pariwisata di Kalimantan Barat menjadi salah satu motivasi dibalik kajian yang dipaparkan pada seminar akhir penelitian kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Kalbar dan Universitas Tanjungpura (Untan), Selasa (11/10). 

Pemaparan hasil penelitian tersebut bertajuk “Pariwisata Berbasis Geowisata di Kabupaten Sekadau”. Penelitian tersebut merupakan kolaborasi dosen Universitas Tanjungpura dari berbagai jurusan. Diantaranya Dr. Erni Yuniarti, ST. M.Si. dan Firsta Rekayasa Hernovianty, ST., M.T. dari Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Dr. Stefanus Barlian Soeryamassoeka, ST., M.T. dari Jurusan Teknik Sipil, Wahdaniah Mukhtar, S.T., M. Eng. dari Jurusan Teknik Pertambangan, dan Sarma Siahaan, S.Si., M.Si. dari Fakultas Kehutanan. 

Ketua Peneliti Dr. Erni Yuniarti, ST. M.Si, akademisi Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Untan memandang peran sektor pariwisata perlu dioptimalkan secara berkelanjutan. Menurutnya, kekayaan destinasi pariwisata di Kalbar tidak hanya berperan penting dalam pengelolaan sumber daya alam, namun juga mampu menyumbang devisa yang nantinya membawa pengaruh baik pada kemajuan pembangunan daerah. Hal ini juga sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD 2018-2023) yang menetapkan Kalimantan Barat sebagai sepuluh besar daerah tujuan wisata nasional. 

Pada penelitian ini, pihaknya mengambil lokasi di Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau. ”Kabupaten Sekadau cukup diuntungkan dengan banyaknya jumlah wisata air terjun. Sehingga dapat berpotensi untuk dikembangkan sebagai geowisata,” ujarnya. 

Konsep geowisata ini dapat menjadi solusi dalam pemanfaatan kekayaan geologi dengan mengutamakan dinamika perkembangan untuk kegiatan ekonomi wisata berwawasan lingkungan. Konsep geowisata juga dapat menjadi solusi dalam pemanfaatan kekayaan geologi dengan mengutamakan dinamika perkembangan untuk kegiatan ekonomi wisata berwawasan lingkungan. 

Atas dasar tersebut, lanjut Erni, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengembangkan wisata berbasis geowisata di Kabupaten Sekadau. Melalui kajian ini, telah dihasilkan kesimpulan terdapat tujuh objek geowisata yang tersebar di Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau. Yaitu Batu Nuak, Sirin Nyurong Meragun, Sirin Punti, Kalai Sago, Kalai Susu, Batu Jato, dan Riam Bombang. 

Kondisi geologi pada setiap objek geowisata tersebut memiliki morfologi atau bentang alam berupa lembah diantara perbukitan, disusun oleh batuan beku dioret kuarsa, diorit, dan granodiorit. Batuan-batuan tersebut terbentuk pada kedalaman sekitar lima km di bawah permukaan bumi berukuran >100km2 atau biasa disebut sebagai batolith. Batuanbatuan tersebut diketahui berumur sekitar 144 juta tahun lalu. Kemudian tersingkap di permukaan bumi akibat proses pengangkatan (uplift) yang terjadi kurang lebih 97,5 juta tahun lalu. 

Selanjutnya dilihat dari hasil penilaian tingkat kelayakan, diketahui objek wisata Batu Jato dan Riam Bombang yang berada di Desa Pantok memiliki skor penilaian tertinggi sehingga daerah tersebut layak diusulkan sebagai geowisata. 

”Kami telah melakukan pengambilan data geologi permukaan (pemetaan geologi) maupun data usulan penilaian geowisata Desa Pantok di sepanjang Sungai Pantok yang kemudian diperoleh 10 geosite di Desa Pantok. Geosite tersebut antara lain Batu Garis, Batu Jato, Batu Bedinding, Riam Bombang, Teluk Kajang, Riam Kijang, Teluk Kanis, Riam Bunga, Ranau Tiontang, Nanga Kemunang,” sambungnya. 

Tim peneliti juga memaparkan hasil inventarisasi keragaman geologi di Desa Pantok. Keragaman geologi di desa ini terdiri dari mineral, batuan, bentang alam, struktur geologi, proses geologi, fenomena geologi, serta geomitologi yang berkembang dalam masyarakat setempat. Dari sisi karakterisasi, Desa Pantok berstatus terkemuka karena mempunyai semua komponen keragaman geologi seperti mineral, ranah batuan, proses geologi, bentang alam, struktur geologi, fenomena geologi, serta legenda. 

”Keragaman geologi di Desa Pantok berdasarkan hasil penelitian juga bernilai tinggi karena memiliki makna ilmiah, estetika, rekreasi, dan budaya serta diklasterisasikan sebagai artefak sejarah bumi, rekaman kunci peristiwa geologi, dan pendukung ekologi.” Imbuh Erni. Erni berharap rekomendasi dari hasil penelitian ini dapat ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan. Potensi pariwisata di Kabupaten Sekadau perlu digagas dengan lebih terarah dan terpadu. 

”Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan penataan ruang dan pengembangan pariwisata baik di Kabupaten Sekadau maupun Provinsi Kalimantan Barat. Selain itu, Kabupaten Sekadau direkomendasikan sebagai objek wisata minat khusus berbasis kebumian, dengan usulan Geowisata Desa Pantok,” tutupnya. 

Sumber : Pontianak Post

 

Share Post: